Kamis, 27 Maret 2008

Datang ke Apo Kayan

Disadur dari tulisan tulisan Pastor Ding (almarhum)

Dari daratan Asia Tenggara, orang Kayan berjalan ke Indonesia rupanya bukan ke Selatan mengikuti Semenanjung Malaka, melainkan ke arah Timur : Ke Filipina atau Kalimantan Utara.
Orang Kayan di Apo Kayan mengaku bahwa mereka serumpun (seketurunan ) dengan orang Kayan : sama-sama berasal dari Lenjau Suhu atau Uding Laang Lenjau Suhu, hal mana rupanya tidak diketahui oleh orang Kayan masa sekarang.
Lalu mungkin orang Kenyah dan orang Kayan pernah mendiami hulu sungai Melinau (Kalimantan Timur), Sungai Bahau, Sungai Pengian.
Menurut seorang Kenyah : mereka pernah berdiam di Leken Maren (daerah Sungai Iwan kira-kira bagian tengah, Barat). Menurut yang lain lagi : orang Kenyah berasal darai Long Muhu (cabang Sungai Beram, jauh di hulu Long San). Dan kata yang lain pula : orang Kenyah datang dari Berunai.
Lalu rupanya demikian perjalanan orang Kenyah : Indonesia – Berunai – Lung Muhu – Lung Malinau – Bahau – Leken Maren (S. Iwan) – Apo Kayan.
Dan perjalanan orang Kayan mungkin sama……

Suku-suku di Apo Kayan
Orang Kayan mendalam sekarang sudah kurang tahu tentang Apo Kayan. Maklumlah sudah lama meninggalnya (mungkin kurang lebih 300 tahun sudah).
Dalam pada itu nama Apo Kayan rupanya masih tetap menarik.
Apo Kayan : itulah nama yang diberi oleh leluhur orang Kayan kepada dataran tinggi itu (Apo = dataran tinggi, bukit, gunung). Kenyah : Po Kejin. Sebuah sungai besar di sana disebut mereka sungai Kayan (Hunge Kayan).
Penulis mengunjungi Apo Kayan di tahun 1980, Juni-Juli. Ia sudah melihat dan mendengar.
Banyak orang bias bercerita tentang Apo Kayan. Tetapi ceritanya kurang cocok : yang seorang begini dan yang seorang lain begitu dan seterusnya.
Lalu kita tidak bias tahu, mana yang sebenarnya yang benar.
Kita ambil cerita yang lebih masuk akal.
Orang Kayan, setelah tiba di Apo Kayan, mulailah mereka mendiaminya. Kemudian berpindah-pindah : ke arah barat ….kemudian ke arah Timur …. Pendek kata mereka menyebarkan diri di daratan tinggi itu.
Dari seorang Kenyah di Apo Kayan penulis mendengar : “hampir di setiap bukit terdapat bekas kampung pertahanan orang Kayan.” Itu nyata dari sisa-sisa parit pertahanan.orang Kenyah kemudian tiba : rupanya banyak sekali, mungkin lebih banyak dari pada orang Kayan. Dalam pada itu ada orang Kenyah yang menyatakan bahwa orang Kayan lebih banyak dari pada orang Kenyah.
Makanya orang menjadi sangat banyak di Apo Kayan, ya terlalu banyak sampai Apo Kayan rupanya tidak dapat menampung mereka semua dengan baik. Dikatakan ump. : Kalau orang pergi mengambil air pagi-pagi di Sungai Kayan, airnya menjadi surut kentara sekali.
Orang Punan : bila sampai di Apo Kayan, tidak disebut dalam ceritera. Dan bagaimana mereka di sana, tidak juga diberitahukan. Lalu tentang orang Punan itu tidak ada kabar, meskipun mereka ada di sana.
Suku-suku lain : juga tidak disebut-sebut.
Jadi rupanya yang berada di Apo Kayan itu ialah orang Kayan dan orang Kenyah, menurut ceritera orang tua.
Tapi orang Punan memang ada juga di Apo Kayan dari dulu, menurut ceritera orang lain.
Dan suku-suku lain itu ? kita dengar. Tetapi dalam kepindahan besar nanti, rupanya ada juga orang dari suku-suku lain daripada orang Kayan.
Mengapa ump. Suku-suku Dayak di Mahakam Hulu itu disebut Bahau ? Bahau Busaang, Bahau Bukat, Bahau Penihing dan lain-lain.
Rupanya mereka semua datang dari Sungai Bahau, dari sana sama-sama ke Apo Kayan, lalu kemudian berangkat bersama orang Kayan keluar dari Apo Kayan.
Ceritera Payo-Ayo (rusa-musuh : 1.42) : dikenal juga oleh orang Penihing, menurut seorang perempuan Penihing.
Waktu penulis berada di Tanah Tunjang (daerah Tering, Mahakam) di Kampung Melapeh (lama) ia bertanya apakah mereka tahu ceritera rusa-musuh itu waktu pindah dari Apo Kayan ? Jawabnya “Ya, kami tahu.”
Lalu rupanya ada juga suku-suku lain di Apo Kayan di masa itu. Cuma yang disebut oleh orang tua Kayan adalah orang Kayan dan orang Kenyah.
Dan waktu kepindahan besar itu hanya orang Kayan yang tersebut.
Dikatakan, dengan kedatangan orang Kenyah :
- orang menjadi terlalu banyak, seakan berdesak-desak,
- tanah dan penghasilan menjadi kurang,
- terjadi perselisihan, permusuhan, bebas gerak berkurang, Kampung-kampung diberikan bentang, waspada selalu dan sebagainya.
- Lalu orang menjadi tidak senang, lalu berniat akan berangkat keluar.
Berapa lama orang Kayan tinggal di Apo Kayan sampai kepindahan besar itu, tidak ada orang yang tahu mengatakannya.
Karena sebab-musabab yang di atas itu,orang-orang Kayan terpaksa meninggalkan Apo Kayan, yang tercinta itu, dan pergi mencari tempat yang baik dan aman.



Pindah Dari Apo Kayan
Datah Purah
Datah purah (lembah perceraian) terdapat di hulu di tepi Sungai Purah, sungai kecil, anak Sungai Kayan.
Dikatakan : di sana dulu kala berkumpulah ribuan orang dari segala penjuru Apo Kayan.
(Dalam ceritera disebut saja orang Kayan).
Rupanya orang mau bertemu lebih dahulu :
- bertatap muka,
berindu-rindu (palivang),
papuraa’ urung (memberi ludah sedikit di hidung), ada yang bercium-ciuman,
sampai mencucurkan air mata : kita pergi dan tidak akan bertemu lagi.
- Mendengar pidato nasihat ketua, antara lain :
“kita satu bangsa,
Dan kita akan tinggal bersatu,
Dengan tidak melupakan satu satu sama lain,
Dan tolong menolong,
Terutama waktu kesusahan, lebih-lebih waktu diganggu musuh,
Waktu diserang musuh.”
Lalu dengan pilu hati mereka berpisah.
Rupanya mereka berkelompok-kelompok berjalan, masing-masing rumah dengan kepala (hipi) dan rakyat (pinyin) nya, dalam rombongan besar.
Dengan arah yang sama dan satu saja ?
Atau dengan arah yang berlainan dan beberapa ?
Ceritera dari mendalam menyebut satu arah saja.
Rombongan berjalan menuju ke Barat.

Perpisahan : Ceritera Payo-Payo
Sampai di sebelah hilir Sungai Barang, cabang Sungai Kayan, mereka menyeberang meniti jembatan gantung(Kayan : ja’it). Di sana Sungai Kayan kecil, sempit.
Waktu menyeberang di jembatan gantung tersebut, tiba-tiba orang mendengar teriak dari seberang sana : “Payo!” (rusa).
Orang sebelah sini mendengar “Ayo !” (musuh).
Lalu orang menjadi kaget, kacau…
Akhirnya jembatan dipotong.
Yang benar ialah rusa dan musuh tidak ada.
Orang-orang yang berada sebelah sini jembatan (belum menyeberang), berjalan meniti jalan lain, langsung menuju ke Sungai Mahakam.
Demikianlah ceritera orang Kayan di Sungai Kayan Hilir (sebelah hulu Tanjung Selor), menurut Pastor Suyono di tahun 1977.
Ceritera Payo-Ayo menurut orang lain.
Orang yang sudah di seberang sana meneruskan perjalanan ke barat, melalui pegunungan perbatasan Indonesia dan Serawak (Malaysia), sekarang, sampai di Batang Rajang.
Dikatakan mereka tinggal di hulu sungai Jangayaan (Iban : Baleh).
Rupanya orang sedang lama berdiam di Sungai Jangayaan itu.
Tetapi daerah Jangayaan belum memuaskan. Lau orang mencari-cari tempat yang lain, yang lebih baik.
Dari Sungai Jangayaan pergi ke Hulu Sungai Sibau (Kayan : Tavio).
Disana orang bercerai, masing-masing kelompok mau pergi ketempatyang dianggap baik.
Kata mereka : “Kita bercerai, tapi jangan lupa satu sama lain, terutama dalam kesusahan, lebih-lebih waktu perang. Kita mesti Bantu-membantu”. Mereka lalu berangkat.
Separuh perjalanan ke utara : Ada yang sampai di Sungai Balui, lalu menetap di sana : Kayan Balui. Ada yang sampai di Tubau dan menetap di sana : Kayan Tubau (Kayan Tubo).
Mungkin juga datang kemudian di Tubau : rupanya mereka cabang dari Kayan Balui : bahasa hamper sama. Ada yang sampai di Sungai Beram (Kayan : Telaang Usaan), lalu menetap di sana : Kayan Beram (Kayaan Telaang Usaan). Separuh menghiliri Sungai Sibau (Tavio) dan agak lama orang menetap di daerah Sungai Sibau di sana sini. Sampai sekarang masih tampak bekas rumah-rumah orang Kayan di sana : tebawang dengan pohon-pohon durian. Dan di muara Sungai Belakkaraan juga masih dapat dilihat dua parit pertahanan melawan musuh. Rupanya daerah Sibau belum cukup baik untuk orang Kayan. Mereka milir sampai di Muara Sungai Sibau, berumah juga di sana beberapa lama. Kemudian mudik, masuk Sungai Mendalam, di mana mereka menetap : Kayan Mendalam. Separuh (kebanyakan Umaa’ Suling) berjalan sampai di Sungai Usok, cabang Sungai Mahakam. Dari sana ke Mahakam, lalu sampai di tempat mereka masing-masing yang sekarang. :Kayang Mahakam. Orang yang tinggal di Apo Kayan : Kayan Apo Kayan. Menurut ceritera di atas orang Kayan Mahakam sampai di Mahakam dengan dua rombongan melalui dua jalan. Waktu penulis di Lung Pahangai, Mahakam, tahun 1977, ia mendengar seorang wanita, melagukan kisah keturunan (Kayan : Takulung) : ia berulang-ulang menyebut Sungai Jangayaan. Lalu rupanya benarlah mereka sudah pernah tinggal di sana.

Lain tentang perpindahan
Sejak kepindahan besar dari Apo Kayan itu, orang Apo Kayan (Kenyah, Kayan) Berangkat terus menerus, meninggalkan Apo Kayan. Sampai sekarang (tahun 1981) arusan perpindahan itu belum berhenti. Setelah timur sungai Mahakan di hulu Sungai Bealyan dan Sungai Wahau (Cabang Sungai Kelnjau yang cabang Sungai Mahakam) terdapat sekarang banyak orang Kayan (mungkin sudah ribuan). Demikianlah tentang orang Kayan dulu :
Dari selatan tanah Cina sampai di Kalimantan, Indonesia, Apo Kayan, lalu sampai di tempat masing-masing yang sekarang.

Pembagian atau macam orang Kayan
Terjadi menurut tempat, peristiwa, keadaan dan sebagainya. Dulu kala di Apo Kayan.
Ada ump. Orang Kayan yang berumah di Apo Aging, lalu rumah mereka dan mereka sendiri disebut Umaa’ Aging. Ada orang Kayan yang berumah di Apo Suling atau Sungai Suling, lalu rumah mereka dan mereka sendiri disebut Umaa’ Suling. Ada orang Kayan yang berumah di gunung (pegunungan), lalu rumah mereka dan mereka sendiri disebut Umaa’ Pagung. Sebagian dari mereka berumah di tanah dataran, dan mereka disebut Umaa’ Palo’. Mengapa Umaa’ Palo’, ceritanya sebagai berikut :
Pada suatu hari beberpa laki-laki pergi membuang tepung sagu = malo’ (kata kerja), dari Palo’ (kata benda). Mereka menemui seorang bayi dalam seruas buluh.
Bayi itu diambil, dibawa ke rumah, ia kemudian diberi nama Lasah. Karena tidak diketahui bapa atau ibunya, ia dinamakan saja Lasah. Palo’’. Inilah yang menurunkan orang rumah Palo’ atau Umaa’ Palo’. Ada orang Kyan yang disebut umaa’ Belur (belur = runtuh, roboh, pindah ke bawah, ke hilir dan seterusnya).
Menurut seseorang, mungkin dulu mereka berumah di bukit, di mana terjadi kemudian kelongsoran dan rumah mereka roboh, lalu mereka pindah ke bawah atau ke hilir.
Lalu menurut tempat dulu ump. :
- Umaa’ Aging : dari Apo Aging
- Umaa’ Suling : dari Apo Suling atau Sungai Suling,
Umaa’ Pagung : dari gunung
Menurut kejadian dulu kala ump, :
- Umaa’ Belur : rumah yang runtuh,
-Umaa’ Palo’ : dari peristiwa membuat tepung sagu,
- Umaa’ Awe : rumah yang pindah,
Menurut peristiwa dan sebagainya. (yang tidak diketahui lagi sebab-musababnya) dan ini biasanya disebut puhuu’ (asala ketirinan dan sebagainya).,
Ump. :
- Adaan : Ding Adaan
- Ajung : Ulo Ajung,
- Akah : Ingatan Akah,
Asaan : Anye’ Asaan, Unyaang Asaan,
Aving : Ding Aving,
- Avit : juaan Avit,
Bano : Araan Bano; lekas beruban,
Bayaan : Asun Bayaan; bodoh, pemalas,
Daro’ : Juk Daro’
Jaraan : Anye’ Jaraan,
Laa’ (Belaa’ = merah) : Ulo laa’,
Sam : Avi Sam,
Ubun : Juk Ubun,
Urut : Araan Urut,
Dari tempat-tempat (di atas) ada juga yang menjadi puhuu’ unp.:
Aging : Tigaan Aing, Sangiaang Aging, Lekan (pendek, kan): Jero Lekan atau Jeno Kan.
Lekan ialah bagian lereng bukit atau gunung yang datar rata : lalu Umaa’ Lekan : rumah yang pernah berdiri di atas sebuah Lekan ; Orang puhuu’ Lekan : orang yang berasal dari Lekan, seperti di atas.
Tuaan = rimba; lalu Umaa’ Tuaan : mungkin rumah yang pernah berdiri di hutan rimba (sekarang terdapat di Mahakam, ump. Di Lung Lunuk). Puhuu’ (di atas) itu mempunyai sifat-sifat yang tertentu (yang kurang diketahui lagi), ump :
Puhuu’ bano : lekas beruban (masih muda sudah beruban) ;
Puhuu’ Bayaan : pemalas dan bodoh. Ump. Diceritakan :
Pada suatu pagimereka bangun lalu keluar. Di luar banyak sekali kabut sampai tanah tidak tidak tampak;dikatakan mereka “air pasang”. Lalu mereka melompat-lompat ke dalam kabut itu (mau berenang di air); tentu banyak yang mati atau kesakitan kena batu atau kayu dan sebagainya.
Itulah suatu kebodohan orang Puhuu’ Bayaan yang terkenal sampai sekarang. Orang Kayan satu : terbagi-bagi menurut tempat, kejadian dahulu kala. Kemudian mereka bercampur pula, karena keadaan, peristiwa ump. Kawin dan seterusnya. Lalu ump. Ada orang Umaa’ Suling diumaa’ Aging, dan sebaliknya. Dan Puhuu’ juga bercampur di sebuah rumah panjang atau kampung. Lalu di Umaa’ Aging kita ketahui ump. Puhuu’ Adaan, p. Akah, P. Ata’, p. Banu, p. Avit, p. Jarang, p. Sam, p. Ubun, p. Urut. Nota : Di Apo Kayan orang tidak kanal Apo Aging, dan yang ada ialah Apo Ating; mungkin Ating inilah yang dimaksud dengan Aging, kata mereka. Tetapi mengapa orang Kayan mendalam dan Kayan Balui berkata tentang Apo Aging ? Di Mendalam ada Umaa’ Aging dan di Balui ada juga Umaa’ Aing, dan tidak ada Umaa’ Ating! Begitu juga tentang Apo Suling atau Sungai Suling: tidak ada di Apo Kayan, kata mereka : yang ada ialah Sungai Samling dan Bukit Samling : tempat lapangan terbang Datah diah sekarang ini (tahun 1980).



PANDANGAN DUNIA KAYAN : BUMI DAN PARA ROH
KEJADIAN BUMI DAN ISISNYA
Asal Dunia dan Hipui menurut Dayung Teguk Aruu’ Ceritrera kejadian ini diambil dari Dayung teguk Aruu’ panjang) : pada akhir tiap-tiap kalimat doa pemukul lantai dengan ujung dua pemukul kayu di tangan kiri dan kanannya.
Dayung (doa) ini dilagukan setiap tahun pada pesta dange habis panen. Di sisni diterjemahkan saja yang perlu.
Mengangkang laba(h)-laba(h) indah berjalan lalu.
Bergemuruh datanglah batu, Terbungkus, terbenam bersarang pada jaring-jaring pisang. “inilah nyatanya batu. Apa gerangan gunanya? “
Kata makiaan dan julaan bersahutan.
Bertambah-tambah besarlah batu dengan mudah,
Bertambah besarlah batu mulia.
Menjadi sebesar buntut bakul rotan, yang dipikul ibu bekerja.
Menjadi sebesar penampi rotan ibu.
Menjadi sebesar tikar rotan ibu.
Terhampar-hamparlah batu meluas, Sampai orang tidak dapat bersahutan dari dua tepi,
Meluas di seluruh bawah langit berseri.
“batu saja ini nyatanya. Apa gerangan gunannya ?”
Kata Makiaan dan Julaan bersahutan.
Di mana semua kamu anak rumput terang, marilah kamu duduk di atas batu bundar.
Ya, maka berkilap datanglah sesuatu,
Bagaikan cahaya kelemayar,
Bagaikan cahaya kelemayar halus,
Tahu-tahu (seekor) cacing.
Lalu menyelam, membenam tenggelam
Pada pangkal pohon napun...
Berak mengeluarkan tanah ...
Apa gerangan gunanya ?
Kata makiaan dan Julaan bersahutan.
Meluaslah tanah dengan mudah, meluaslah tanah mulia,
Menjadi sebesar kuku kelingking ibu.
Meluaslah tanah saya dengan mudah,
Meluaslah tanah mulia,
Menjadi sebesar kancing.
Meluaslah tanah saya dengan mudah,
Meluaslah tanah saya mulia,
Menjadi sebesar kancing tali mandau bapa.
Meluaslah tanah saya dengan mudah, meluaslah tanah mulia,
Menjadi sebesar tikar duduk bapa.
Meluaslah tanah saya dengan mudah,
Meluaslah tanag mulia,
Menjadi sebesar buntut bakul,
Tempat ibu menyimpan padi....
Meluaslah tanah saya dengan mudah,
Meluaslah tanah mulia,
Menjadi sebesar tikar rotan,
Tempat ibu menjemur padi.
Terhampar-hamparlah tanah luas,
Sampai orang tidak bisa bersahutan dari tepi,
Meluas di seluruh bawah langit berseri.
Ya, apa gerangan gunanya?
Kata Makiaan dan Julaan bersahutan.
Bergemuruhlah sesuatu datang
Dari tepi langit berseri,
Bagaikan tukul pemukul canang,
Bengkok bagaikan biji durian,
Berkait bagaikan terbit bulan terang.
Kayu ini nyatanya.
Apa gerangan gunanya ?
Bertumbuhlah pohon kayu muda belia,
Menjadi setinggi pangkal pisau bapa.
Bertumbuh pohon muda indah,
Menjadi setinggi hulu beliung bapa.
Bertumbuhlah pohon kayu muda belia,
Menjadi setinggi pohon pisang kelingking.
Bertumbuhlah pohon kayu mudah indah,
Menjadi setinggi pohon pisang
Melonjaklah pohon kayu mulia,
Menjadi setinggi tongkat tombak bapa.
Pohon kayu besarlah ini nyatanya.
Apa gerangannya gunanya ?
Mengangkang menyengkang berjalanlah kepiting inda ...
Mengais pasirlah ia,
Mencabut akar,
Lalu mendesirlah banjir sungai...
Maka sungai ini mengalir,
Membuat sungai-sungai bercabang-cabang ...
Kayanlah itu, ibu sungai-sungai.
Memutihlah batu kerikil (bagaikan) manik-manik,
Memutihlah batu kerikil (bagaikan) kancing-kancing,
Berserakanlah ranting kayu,
Besar-besarlah batu-batu bagaikan tempayan,
Besar-besarlah batu bagai canang.
Bukitlah itu terbentang,
Bukit sampai di muara sungai,
Dataran di lereng bukit tempat padi,
Tempat orang berkebun.
Tegak-tegaklah buluh “buluu’ buring” pada batang air.
Lurus-luruslah buluh “buluh’ pusah”,
Yang perlu untuk ramuan dange.
Tumbuh “hubo’”, pohon yang perlu juga untuk ramuan dange.
Tumbuh ... ( pohon-pohon lain)
Lalu rotan-rotan ini bergantungan, berayun,
terentang di ujung pohon tengkawang.
Datanglah angin,
Menyelamkedalam mata kayu,
Maka menjadi besar sekalilah pohon kayu mulia.
Berderaklah sesuatu
Datang dari puncak langit berseri.
Nyatanya bapa Aje Ave.
Berkilaplah sesuatu
Datang dari tepi langit berseri
Nyatanya ibu Doh ketatilah pudel.
“ya bapa balare’ Aje Ave,”
Kata ibuu Doh Ketatilah Pudel.
“marilah kita pindah ke atas pohon kayu mulia (kayo’ dange).
Tidak lama kemudian
Pindahlah ibu Doh Ketatilah Pudel.
Dan bapa Balare’ Aje Ave.
Lalu meletakkan papan-papan tempat tidurlah
Bapa Balare Aje Ave,
Menghamparkan tikarlah ibu Doh Ketatilah Pudel.
Mengambil kumparan talilah ibu Doh Ketatilah Pude,
Mengambil hulu pisau berukiran berserilah bapa Balare’ Aje Ave.
Tidaklama dari itu
Jatuhlah kumparan tali,
Bapa Balare’ Aje Ave,
Di mana kita mengambil anak yang kita suruh pergi
Mengambil kumparan tali
Dan hulu berukiran berseri ?”
Kata ibu Doh Kertatirah Pudel.
Lalu turunlah ibu Doh Ketatilah,
Turunlah bapa Balare’ Aje Ave.
Berkilaplah sesuatu datang
Dari puncak yang berseri.
“wah,” kata ibu, “wah,” kata bapa,
“ajaib benar benda ini !
Mata sajalah ini secara mendadak:
Tidak ada tangan untuk keduanya menjamah,
Tidak ada kaki untuk keduanya melangkah.”
“ya bapa Balare’ Aje Ave,
Larilah kita ketepi langit berseri,
Larilah kita kepuncak langit.”
Larilah ibu Doh Ketatilah Pudel ke tepi sungai berseri,
Larilah bapa Balare’ Aje Ave
Ke puncak langit,
Larilah dari patung yang duduk di atas kumparan tali dan hulu berukiran berseri.
Maka hipuilah Kaluvar Ga’e,
Hipuilah kalube wage.
Keduanyaklah yang menurunkan ujung malaan Leke,
Menurunkan Paran Kalitar Pulut Lue.
Menurunkan bapa Lahende,
Menurunkan ibu Tuyur Bawe.
Menurunkan Ting Utii’ Jayaa’ Badii’ an Darve,
Menurunkan kalu,ung Batung Payaang Ule,
Menurunkan Kerapso’ Medo’ date.
Menurunkan Balhat Kamat Ide,
Menurunkan penyiram Dam Leme.
Menurunkan Lehe lalo ( yang) menciptakan tempayan.
Dialah yang membuat kaki untuk menyentuh,
Mempunyai tangan panjang juga untuk mencapai di tepi langit berseri.
Menurunkan bapa Aui Ame
Dan ibu Buring Uni.

ANAK-ANAK AME AUI DAN BURING UNE
Keduanyalah yang menurunkan Baang Alang Aui,
Menurunkan Usun Ketun Apui.
Menurunkan Baang Alang Le,
Menurunkan usun Julur Jale.
Menurunkan Juk uyuk Ingatan,
Menurunkan Anyaa’ Ata Tuyaan.
Menurunkan Juk Yuyuk Une,
Menurunkan Do’ Lengo’ Pare.
Menurunkan ha’aang Pidaang Levaar,
Menurunkan Usun Julur Alaan.
Menurunkan Penyiraman Dam Leme,
Menurunkan Kerapso’ Medo’ Date,
Menurunkan Karawit Usit bulaan Ide.
Menurunkan Enam belaslah anak Ame Aui
Dan Ine Buring Uni.
“ya anak-anakku yang baik,
Pergilah kamu mendaki bukit, berebutan,”
Kata Ine Buring Uni.
“kalau ada yang dapat,
Kalau ada yang lebih,
Merekalah raja, yang dibantu dengan ladang padi,
Yang dibagikan paha babi,
Yang dibuatkan pondok dange,
Yang diberikan tebu “tevo’ latung jale”.
‘kalau ada orang yang tidak mampu,
Bagaikan tidak baiik anggota kaki,
Bagaikan orang yang mengandung,
Merekalah hambar yang disuruh memasukan kayu api di bawah (tanakan)
nasi tamu.”
Lalu berangkatlah anak-anak bapa Aui Ame dan ibu buring Uni,
Masing-masing dengan seberkas tebu.
Maka berebutanlah anak-anak bapa Aui Tuluii Julaan, dayung yang cepat mendirikan jubaan.
Mereka mendaki tanah bukit.
Banyak meraka yang kepayahan di tengah tanah bukit.
Dua orang yang mampou lebih
Mengikuti tanah bukit.
Dua orang yang tidak mampu,
Datang bergerak dari hilir sungai,
Bagaikan tidak baik anggota kaki keduannya,
Bagaikan orang yang mengandung juga.
Maka kembalilah anak-anak bapa Aui Ame dan ibu Buring Uni,
Kembali menuju rumah.
“ ya ibu Buring Uni dan bapa Aui Ame,
Dua inilah kami yang dapat lebih,
Mendaki tanah bukit.
Banyaklah mereka yang kepayahan di tengah tanah bukit.
Dua orang yang tidak mampu, datang bergerak dari hilir sungai,
Bagaikan mengandung keduannya berjalan.”
“ya,” kata ibu Buring zone dan bapa Aui Ame,
“kamu dua yang lebih mampu,
Kamu dualah hamba, yang disuruh dalam rumah
Memasukkan kayu api nasi tamu.”
“saudara-saudaramu yang kepayahan di tanah bukit,
Merekalah yang membuat ladang luas sampai tidak terdengar bunyi
Gendang undangan,
Sampai (tepinya) tidaktercapai oleh enggang yang terbang,
Rakyat yang memberikan raja paha babi.”
Dua saudara-saudara yang tidak mampu,
Datang bergerak dari hilir sungai,
Keduanyalah raja (hipui) yang mendirikan dange,
Yang kamu bantu dengan ladang padi,
Yang kamu berikan paha babi.”
‘ya, anehlah perkataan ibu,
Beranilah perkataan bapa.
Lari, larilah kita ketiap-tiap cabang sungai,
Tiap-tiap cabang sungai tamu.”
Lalu larilah anak-anak ibu Buring Uni dan bapa Aui Ame,
Pergi ketiap-tiap cabang sungai tamu.

MANUSIA BARU
“ ya bapa Aui Ame,”
Kata ibu buring Uni,
“dimana kita akan mendapat anak yang kita gendong,
Yang kita pestakan?”
“bapa Aui Ame,”
Kata ibu Buring Uni,
“arilah kita mengikis pelepah pohon “Kayu Dange”.”
Lalu menggeserkan “iman”lah ibu Buring Uni,
Dan mengambil kain bekas rusak.
Mencabut mandau bermata dualah bapa Aui Ame.
Pergilah keduannya mengikis pelepah pohon “kayo’ dange”
Mengikislah bapa, menadahlah ibu.
“sudahlah,” kata ibu, “sudahlah,” kata bapa.
Saling membelakangi keduannya menghamburkan (serbukpelepah kayu tadi)
Sambil berjalan ke ujung rumah.
Tapi tidak ada suara orang bersahutan.
Dalam rumah panjang.
“bapa Aui Ame,”
Kata ibu Buring Uni,
“marilah kita pergi menjala di batu besar.”
Berangkatlah bapa Aui Ame dan ibu Buring Uni.
Memegang jalalah bapa Aui Ame,
Pergilah ia menebarkan jala di batu besar (dalam air),
Lalu setiap matanyalah ikan”nyaraan” kena jala.
Membuat tungkulah bapa,
Mengaturnyalah ibu Buring Une.
“ya, sudah,” kata ibu, “sudah”, kata bapa.
Kembalilah keduannya kerumah.
Saling membelakangi keduanya menyuapkan ikan
Ke dalam mulut orang, sambil berjalan ke ujung rumah panjang.
Mengeong kusing berwarna halus,
Berteriak anjing diujung dapur rumah.
Ketawa lantang bersahutan,
Ketawa lantang secara mendadak.
Memanggilkan ibunya yang lain,
Memanggilkan bapanya yang lain.
Maka gembiralah ibu buring Uni dan Bapa Aui Ame :
“ada nyatanya anak yang akan kita gendong,
Yang akan kita pestakan.”
Inilah asal tumbuh manusia banyak di atas bumi
Di bawah langit berseri.

PARA ROH
(lalu dayung menyanyikan ciptaan para roh.
“Berkilaplah sesuatu datang
Dari puncak langit berseri,
Bengkok bagaikan biji durian,
Berkait bagaikan terbit bulan.
Menurunkan Ine Aya’ Lagaan
Dan Bapa uvaang Uaan.
Menurunkan Unyaang Kujut Julaan.
Menurunkan Katubung Ledo’ Jarung
Dan bapa Ingatan.....
(dan lain-lain).
Orang-orangnya dan urutan sebutannya hampir seperti pada dayung Kiaan (lihat (hal. Asli) 134), tapi rupanya lengkap seperti pada dayung kiaan (ada yang dilangkahkan).
Ciptaan mereka disebut begitu saja : mereka yang ada sekarang, merekalah yang disebut. Jadi tidak disebut siapa yang mula-mula sekali diciptakan Allah. Ump. Ine Aya’ Lagaan (di Apo Lagaan) : bukan ia pertama yang diciptakan oleh Allah, karena ia mempunyai ibu-bapa, nenek dan seterusnya.
“berkilaplah sesuatu datang ...”: Allah atau kuasanya yang menciptakan.
Lalu yang “menurunkan” di sini ialah Allah (demikian penjelasan Kr. Tipung Jawe’, seorang dayung masa dulu).

ADAT KAYAN ASLI
Asal mula Adat Kayan di Apo Kayan
Ine Aya’
Nama dan Keluarga Ine Aya’
Tinggi di atas Apo Kayan terdapat Apo Lagaan, Apo Lagaan merupakan pintu masuk ke alam para roh di atas sana dan merupakan permulaan jalan ke tempat para roh yang lain :
Ke Apo Kasio, Ke rumah Karuvan Lisun di Gunung (mengambil jiwa), Ke Telaang julaan, Dayung ke sana, Jiwa orang mati ke sana, Ke rumah-rumah para roh menghilir sungai Kalimaan, Di gunung batu baru kembali. Ini disebut alaan dayung (jalan dayung).
kemudian
Ada beberapa Ine Aya’ (ibu besar) :
Ine Aya’ Daya’ Ipi di Apo Lagaan,
Ine Aya’ Lung (ibu besar Muara) : rumahnya di muara sungai Kalimaan besar.
Ine Aya’ Ikoh : diseberang laut (dilihat dari muara sungai Kalimaan).
Ine Aya’ Alar : diseberang laut,
Ine Aya’ Adat : …..
Yang lebih dikenal ialah ine Aya’ Daya’ Ipi di Apo Lagaan, di tempat yang disebut :
Umaa’ awe Apo Lagaan,
Apo Legun Tajo Jale,
Hungo Navi Dungo Legun tajo te’ Apo Lagaan,
Apo Tepan Lagaan Julaan,
Jaang Tukung sung Luhung ubung hayaar,
Umaa’ ngalaang te, Apo Lagaan,
Apo Lagaan Aya’ Daya’ Ipi.
Ia disebut juga :
Ine Aya’ te’ Apo Lagaan,
Ine Aya’ dange aTipang tuaang,
Ine Aya’ Avi Dungo te’ Apo Laggan,
Ine Aya’ Avi pi’
Ine Aya’ Avi paar,
Ine Aya’ Avi Asung Luhung.
Nama Ine Aya’ Daya’ Ipi yang sebenarnya ialah Mageran Bataang
(yang kurang disebut).
Suaminya menurut Tipung Jawe’ ialah :
Uvaang Uaan atau Dale’ to Madaang (yang banyak disebut)
Lake’ Akah,
Henyaap Aing,
Bungaan Uting.
(yang tiga ini kurang diketahui orang banyak)
Biasanya suami yang berturut-turut, bukan sekaligus. Lalu
Kita tidak dengar Ine Aya’ itu mempunyai suami beberapa orang dalam rumah.
Dan bagaimana sampai mempunyai beberapa suami begitu, tidak diketahui lagi ceritanya.
Anak Ine Aya’ Daya’ Ipi dengan Uvaang Uaan :
1. Lalang Tulang Huraang,
2. Jalivaan,
3. Silo,
4. Gatubung Leno,
5. Tipung hudo’ Mebaang,
6. Julaan.
Anak dengan suami lain (tidak tahu yang mana) :
1. Huli Ajo Lejo,
2. Takuaan Kuah.
Dikatakan, Ine Aya’ Daya’ Ipi berasal (keturunan) dari Tanangaan (Allah).
Bagaimana, kurang diketahui sekarang.
Maka keturunan Ine Aya’ selanjutnya disebut juga keturunan dari Tanangaan (Allah).
Dengan anak-anak Ine Aya’ di atas almarhum Tipung Lawe’ tidak menyebut Hemang (Hmmang). Mungkin lupa, karena dayung kenal juga Hemang.
Hemang itu yang turun ke bumi kita .. lalu menjadi isteri Bit Liuu’,
Dan dengan demikian menurunkan sebagian hipi kayan.
Makanya hipi Kayan itu disebut keturunan Tanangaan (Allah), lewat Apo Lagaan.
Buko dan Lalalng Buko, puterinya, tidak disebut juga di atas.
Menurut Syair Lawe’ mereka dari Apo Lagaan : hipi (ratu) di sana.
Menurut Tipung Jawe’ dayung tidak merupakan ceritera yang lengkap, terperinci. Hanya yang perlu baginya yang dii ceritakan lagi, Sedangkan lain-lain ditingglakan.
Mengenai yang ditingglkan itu, ada juga dayung yang masih dapat menceritakannya, tapi ada juga yang tidak dapat diceritakan lagi, karena sudah dilupai.
Maka banyak kalimat dayung yang mesti dijelaskan dari ceritera-ceritera orang tua Kayan, Syair Lawe’ dan lain-lain.
Atau dari ceritera dayung sendiri, yang dilangkah atau ditinggalkan itu, kalau masih diingat.
Maka di Apo Lagaan sana berdiam Ine Aya’ Daya’ Ipi dengan suaminya Uvaang Uaan dan anak-anak mereka dalam sebuah rumah p-anjang dengan rakyat banyak.
Dikatakan mereka orang kaya, lalu hidup makmur sekali, tidak kurang apa-apa. Karena itu juga Apo Lagaan Ine Aya’ itu menjadi masyhur.

Buring Bango
Ine Aya’ memp[unyai seorang saudara perempauan, bernama Buring Bango, yang rupanya orang baik. Suaminya bernama Bunut ??. Mereka mempunyai tiga orang anak gadis : Angin Lungin, Avi Pi atau Avi Paar atau disambung Avi Pi Avi Paar, dan Asung Luhung.
Rupanya mereka tinggal bersama Ine Aya’ dalam sebuah bilik besar (bilik hipi), dengan rakyat yang sama.
Di Apo Lagaan tempat Ine Aya’ itu terdapat dua bawaang (danau) dan tidak ada sungai :
Bawaang Samhas’ (Danau Timah) : tempat mengambil air dan mendi dan sebagainya.;
Bawaang Helung (Danau Cipta) : tempat mencipta, memperbaiki orang dan sebagainya.
Ine Aya’ daya’ ipi adalah seorang yang bertingkah : ada waktu ia baik dan ada waktu ia tidak bai, marah-marah, samapai bisa berlaku kejam.
Satu dua contoh yang berikut :
Pada suatu hari Buring bango pergi ke ladang.
Tiga anak gadisnya diserahkan kepada penjagaan Ine Aya’.
Kemudian Ine Aya’ pergi terjun dengan ketiga gadis itu ke dalam Bawaang Helung, lalu mereka melekat pada tubuhnya :
Angin Lungin di belakang,
Avi Pi (Avi Paar) sebelah kana,
Asung Luhung sebelah kiri.
Karena peristia itu Ine Aya’ mandapat nama menurut nama gadis-gadis itu, lihat. Waktu kembali dari ladang, Buring Bango melihat tiga anaknya sudah melekat pada Ine Aya’.
Lalu ia menjadi tidak senang.
Karena tetap tidak senang, ia bersama suami dan rakyat yang suka, meninggalkan Apo Lagaan dan pergi ke Apo Kasio, di mana mereka menetap seterusnya.
Dari Apo Kasio Buring Bungo mengait jiwa padi di apo Lagaan, lalu mereka di Apo Kasio menjadi kaya padi dan orang di Apo Lagaan miskin padi. Keadaan tetap begitu di Apo Kasio, juga waktu kalaparan di kampung-kampung lain. Maka orang kampung-kampung lain itu pergi membeli padi di Apo Kasio.
Lama kemudian Buring Bango menjadi kasihan, lalu jiwa padi dari Apo Lagaan itu dipulangkan. Sejak itu orang Apo Lagaan mulai pula mendapat padi banyak.

Cerita Hingaan Jaan
Oleh Ine Aya’ hingaan Jaan tersangkut pada pohon beraan (jenis beringin, Ficus), dekat muara sungai Jahaang, cabang sungai Kalimaan besar di hulu. Ceriteranya sebagai berikut :
Pada suatu hari anak kecil Kering ningaan dan Hure Ukah, yang bernama Hunyaang Luaan, adik Ingaan Jaan, akan dipestakan menurut adat (dange anaak).
Mereka memerlukan seekor tupai. Lalu Ingaan dan beberapa orang pergi mencari, menyumpit tupai. Mereka mendapat tupai, tetapi semuanya buta dan tidak boleh dipergunakan.
Ingaan mengejar seekor tupai.
Tupai itu nyatanya Tupai Ine Aya’ dari Apo Lagaan. Ia tidak bisa kena sumpit. Ia lari-lari,lau sampai si pohon beraan Ina Aya’ dekat rumah di muara sunga Jahaang itu. Ingaan kejar terus, samapai naik pohon Beraan tersebut.
Ine Aya’ menjadi gelisah. “Kalau begini,” katanya, “tentu ada orang yang mengganggu beraan dan binatang-binatang di sana.”
Dijenguklah, lalu tampaklah ingaan di sana.
Diambilnya racun “telaang bakuii lejo” (cairan yang membuat orang menjadi harimau), dihamburkannya ke sana, tapi tidak berhasil.
Diambilnya racun “telaang balui Tingaang” (cairan yang membuat orang menjadi enggang), dihamburkannya ke sana, tapi tidak juga berhasil.
Lalu diambilnya “telaang kiro” (cairan yang membauat beraan tinggi) dan dihamburkannya ke sana, lalu berhasil : beraan menjadi tinggi, dan makin menjadi tinggi, dan Ingaan tidak dapat mengejar tupai itu lagi,lalu ia pun mulai turun.
Pada sebuah mata kayu ia berhenti dan tombak sumpitnya ditancapkan pada pohon beraan.
Lantas getah beraan keluar danjatuh pada Ingaan, yang menjadi kulit beraan, yang makin lama makin besar, sampai menutup seluruh tubuh Ingaan.
Makanya Ingaan tersangkut di sana :
Hingaan kalan beraan (Ingaan tersangkut di beraan).
Hingaan beraan nyeluu’ (Ingaan ditelan beraan).
Hingaan Jaan(Ingaan yang sudah tidak ada atau sudah mati).
Rambutnya yang panjang itu tidak kena ditelan beraan : mengurai diluar, melayang-layang kalau dihembus angina.
Pohon beraan itu dekat pada tepi sungai Jahaang dan sungai Kalimaan sehingga dapat dilihat orang yang hilir mudik. Lalu rambut Ingaan juga nampak.
Dan dekat rumah panjang yang ada disana. Lalu rumah itu disebut Umaa’ h’idaa’ beraan (rumah di bawah beraan)) : mungkin daha-dahannya merentang di atas rumah itu.
Melihat kejadianitu (Ingaan ditellan beraan), orang menjadi takut sekali, lalu lari, pergi ketanah yang jauh sekali, dan menetap di Apo tapaang lejo, uduu’ tulaar (bukit tempat harimau mendekap, tempat binatang-binatang tidur).
Dan inilah yang dinamakan Takna’ Lung Liung (Syair ceritera pelarian), yang panjang sekali.

Cerita Havi Pi
Havi Pi engan sengaja ditinggalkan oleh Ine Aya’.
Ceritanya demikian :
Waktu orang lari hunyaang Luaan, anak kecil yang akan dipestakan itu, tertinggal dengan seekor kucing. Kata Ingaan Jaan : kucing, lihat dan piara baik-baik adik saya itu.”
Waktu Hunyaang sudahmenjadi dara,datang seorang bujang, bernama huli Ajo Lejo, anak Ine Aya’ dari Apo Lagaan, dan jatuh cinta kepada Hunyaang. Tapi Hunyaang tidak mau kawin dengan dia. (Roh) Hingaan menasihati dia dari pohon beraan, maka ia lalu mau dan keduanya kawin. Lama kelamaan mereka menjadi tidak senang dalam Jahaang danmau pindahj ke Apo Lagaan.
Sudah ada tiga anak : Kering Ningaan (ambil nama kakek), Hure (ambil nama nenek) dan Havi Paar ataupun disambung Havi Pi Havi Paar (ambil nama Ine Aya’).
Ne Aya’ sendiri datang dari Apo Lagaanmengambil mereka. Waktu berangkat ke Apo Lagaan, Ine Aya’ berlata : “saya mendukung Havi Pi.”
Avat (alat pendukung anak) didukungnya terbalik di belakang dan Havi Pi dengan sengaja ditinggalkannya.
Sesudah berjalan jauh, mereka berhenti dan Hunyaang mau menetek bayi kecil itu. Dilihat Avat terbalik dan Havi tidak ada.
Lantas kata Ine Aya’ : “o, ia sudah jatuh!”
Mau dicari, sudah jauh. “biarkan saja!” kata Ine Aya’ . lalu mereka berjalan terus, meskipun Hunyaang dan suaminya susah hati.
Havi Pi itu (sudah tua) yang didapati Lawe’ dalam rumah yang sudah tua dan buruk, waktu Lawe’ dan rombongannya tiba di Sungai Jahaang
Sana untuk menghidupkan Hungaan Jaan,
Sekian tentang tingkah laku buruk Ine Aya’ Daya’ Ipi di Apo Lagaan. Karena itu ia kurang disukai orang.
Ine Aya’ yang lain-lain itu baik saja.

INE AYA’ PURO
Ine Aya’ Puro, di Balui, Sarawak.
Ceritera ringkasnya sebagai berikut :
Orang dalam perayaan dange. Pada suatu hari oaring menari-nari dengan rinang gembira. Seekor kera piaraan diberikan pakaian dan disuruh pergi menari. Lalu oaring-oarang tertawa-tawa .. maka timbulah bahi uvan (angin rebut) dengan lamat jahat). dan orang tentu menjadi takut semua. Ine Aya’ dan beberapa teman pergi berpegang pada buluu’ tawe ( buluh tempat air madu) maka mereka tidak menjadi batu, sedangkan orang lain semuanya menjadi batu, Kemudian Ine Aya’ Puro menjadi to’k (roh) dan pergi berdiam di Apo Lagaan dan rumahnya disebut Umaa’ Nyepe’.
Ada juga beberapa orang yang mencampur adukkan cerita-cerita tua. dengan ceritera yang lain yaitu :Ine Aya’ Daya’ Ipi itu adalah seorang manusia , seorang wanita Kayan Di Apo Kayan. Kemudian Karena ingin akan kemulianan Buring Bungo, ia menjadi roh dan pergi ke Apo langaan , merampas kemulian dan kejayaan Buring Bungo.
Tapi kemudian ceritera itu tidak benar. Yang benar ialah Ine Aya’ Daya Ipi memang roh, yang turun dari Apo Langaan dan kembali beberapa lama dengan orang Kayan, dan kemudian kembali ka Apo Lagaan.
Dan IneAya’ Ipi yang manusia itu adalah Ine Aya’ puro, yang kemudian menjadi roh lalu pergi ke aApo Lagaan, gunung yang tinggi.

Ine Aya’ daya’ Ipi tururn dari Apo Lagaan
dahulu kala adalah seorang ibu besar yang bernama Daya’Ipui .
Daya’ Ipui itu turun dari tempatnya yang dinamai Apo Lagaan dan berdiam didaratan tinggi Apo Kayan. Di sana ia meninggalkan adat –istiadat kepada dua orang yang bernama Ame Aui = bapa Aui, atau Amer Aui Ame = bapa Aui Bapa, untuk sajak ; dan ine Buring Une = Ibu buring Une.
Berapa lama Ine Aya’ daya’Ipi tinggal di Apo Kayan, tidak diketahui lagi. Kemudian ia kembali ka Apo Lagaan, di rumah sana.

Ame Aui dan Buring Une serta anak-anak
Suami isteri Ame Aui dan Buring Une mempunyai anak 16 orang.
Rupanay sesudah Ame Aui dan Buring Une mendapat anak sekian banayak, Ibu besar itu pun lalu pulang ke Apo Lagaan yang tempat persemayaman selama-lamanya.
Adapun Ame Aui dan isterinya itu telah merasa dirinya telah tua.
Karena itu lalu timbullah keinginan suami istri berdua hendak memberi nasihat kepada anaknya yang enam belas itu. Lalu dipanggilnyalah anaknya yang enam belas itu. Anak-anak itupun datang dihadapan ibu dan bapanya seraya duduk dengan hormatnya, menunggu apakah yang dimaksud bapanya terhadap anak-anakku itu. Lalu berkatalah bapa : “hai anak-anakku, ketahuilah olehmu, bahwa kami berdua ibu dan bapa telah tua; tiada lama lagi akan dekatlah waktu bagi kami berdua hendak kembali ketempat yang asal bermula itu. Artinya kami berdua keluar dari dalam tanah, dan sekarang hendak pulang ke dalam tanah juga. Jadi sebelum kami berdua pergi ketempat tersebut itu, maka perlu aku memberi nasihat dan kesan-kesan yang ada padaku untuk kamu bersaudara .
“ Ketahuilah olehmu semuanya, tiada jauh dari sini ada sepohon tebu, yang ditinggalkan oleh Ibu Besar yang bernama Daya’ Ipui ; tebu itu perlu diambil olehmu bersaudara. Cara mengambilnya akan ku atur sebagai berikut. Kamu kusuruh mengambil tebu itu dengan cara berebut dengan cepat. Siapa yang telah lebih dahulu mendapatnya, lalu dialah yang menjadi hipui. Dan yang lain-lain tiada kuberi nama.
Jadi pergilah mereka menurut perintah bapa itu.
Bekejarlah mereka dengan sekuat-kuat nya, berebut hendak dahulu mendahului, ingat akan perkataan bapanya itu. Lamalah mereka berlari-lari dan berkejar-kejar, hingga turun kelembah dan naik ke bukit dengan susah payahnya. Kemudian mereka sampai ditempat tebu tersebut. Lalu pulangklah mereka ketempat bapanya, masing-masing membawa sekerat atau sepotong tebu itu kepada ibu dan bapanya di tempat itu.
Setelah mereka datang semua, berkatalah bapanya : “makanlah tebu itu” lalu mereka makan tebunya masing-masing sampai habis.Setalah itu berkatalah bapanya :”Hai anak-anakku, siapakah yang pertama mendapat tebbu itu, ?” Kata yang seorang : “saya, bapa >” “dan siapa yang menyusul engkau ? “ Kata yang seorang: “saya, bapa, lalu kata bapanya : “siapa kamu yang ketinggalan ?” sahut anak-anaknya : “hanya seorang saja; dia sangat tidak kuat, sebab itu tertinggalah dia di tepi sungai yang di balik gunung yang kami daki itu “.
Lalu kata bapa kepada anak-anaknya yang enam belas orang itu :
“Anak-anakku, aku dan ibumu telah mendengar dan mengambil pertimbangan terhadap kamu yang bersaudara itu. Kamu telah mengambil tebu yang telah dibagi-bagi kapadamu dan telah kamu makan bersama-sama di hadapanku berdua bersama ibumu. Adapun tebu itu asalnya dari Apo lagaan, dibawa oleh Ibu Besar Kita Daya’ Ipui, yang turun ke Apo Kayan waktu dulu., lalu diberinya kepadaku dan aku beri kepadamu yang anakku enam belas ini.”kata bapanya lagi :”supaya kita ingat sungguh-sungguh akan peristiwa yang tersebut itu, lalu kuberinama Daya’ yang tidak dapat luntur, yang kuberi sebagai peringatan pada daya’ Ipui, yang kita sambung menyambung laksana tali-temali yang tidak dapat diputuskan. Dan hendaklah ini kamu akui dari permulaan sampai ke turun-temurun. “inilah nama Daya’ (Dayak). Ada kala orang mengatakan, Daya’ itu kata tambahan saja.
Lalu kata bapa kepada anak yang enam belas orang itu :
“telah kuambil keputusan yang tiada berulang lagi :
1. saudaramu yang pertama mendapat tebu itu kujadikan Panyin.
2. yang datang menyusul itu kunamakan dipan.
3. saudaramu yang ketinggalan jauh itu, dialah yang kujadikan hipui, yang perlu ditolong olehmu, sebab ia tiada bertenaga, lemah.
4. saudaramu yang tiga belas itu tidak kutentukan ; biarlah mereka pergi berusaha di daerah lain.”
Setelah itu, lalu pergilah anaknya yang 13 orang itu dari sana (Apo kayan), mencari penghidupan di lain tempat. Dan tinggalah anaknya yang tiga orang itu di dataran tinggi kayan .
Mereka masih tinggal di sana untuk menunggu peraturan dari bapanya, yang akan menjadi pegangan di tempat tersebut itu.
Setelah itu berkatalah bapa: “Hai anakku, kamu, yang tiga bersaudara ini, hendaklah kamu hidup bersama-sama dan ?/ seia Sekata; tolong-menolonglah kamu selama hidupmu dan jangalah kamu bercerai berai dari permulaan yang sudah kubentuk , sampai turun-temurun.
“Mengenai saudaramu yang lemah dan tidak dapat bekerja itu : Dia hanya makan dari pertolongan kamu berdualah. Sebab dia tida akan sanggup bekerja seperti kamu berdua, lalu dialah hipui yang berkuasa dalam rumahmu.
“yang ku namai dipan, dialah yang menjaga saudaranya yang lemah itu sebagai kaki tangan si hipui. Dan saudaramu yang kunamai Panyin itu, dia mengusahakan ada dange setiap tahun dan dia pun menolong saudaranya yang lemah itu.”
Kata bapa : “kalau kamu mendirikan rumah, hendaknya berbentang panjang, supaya kamu terikat satu mufakat dan mudah berkumpul. “Bila kamu mendirikan rumah, lebih dahulu kamu mendirikan rumah saudaramu yang hipui itu, setelah itu barulah panyin mendirikan rumahnya.
“kalau si Panyin mendapatkan babi perburuan di hutan, maka telah datang di rumah, haruslah memberi paha sebelah kepada saudaramu yang hipui itu.
“Kalau kamu berumah panjang bentuknya,lalu ditengah rumah itulah rumah saudaramu yang hipui itu, supaya mudah menolong dia ditempatnya. Lagipun tempatnya itu perlu dibuka lebih besar dan lebih panjang dari yang lain-lain. Sebabnya dan gunannya ialah tempat perkumpulan pada masa orang datang berapat, orang berkumpul dimasa dange, dan lain-lain keperluan.
“Jadi saudaramu yang hipui itu mempunyai kerja yang tertentu, ialah menentukan adat pantang, yang berguna dan perlu bagi kamu semua. Dialah yang memegang segala urusan rumahmu serta berusaha dengan segala upaya menjalankan peraturan adat, supaya dapat di pakai oleh anak cucu turun-temurun.”

Pohon-pohon Datang Bertanya di mana Berbuah.
Setelah itu berangkat lah Ame Aui dan Buring une, hendak pulang ke dalam tanah. seketika itu juga dia mendengar suara yang datang denga tiba-tiba. Sebab itu tertahanlah bapa dan ibu itu disitu. Maka datanglah segala jenis pohon buah-buahan yang banyak sekali, lalu mereka tunduk dengan hormat kepada bapa besar itu. Katanya : hai bapa, kami datang ini sebab bapa dan ibu akan pulang ke dalam tanah. Kami minta, sebelum bapa dan ibu pergi, bapa sudilah kiranya memberi kerelaan hati untuk menunjuk di mana kami ini akan mengeluarkan buah, bila masa kami berbuah,”
Lalu diamlah bapa dan ibu, menunggu para pohon buah-buahan tersebut satu persatu.
Maka datanglah pohon durian, katanya : “Ya bapa,di manakah saya akan berbuah, apabila masa saya berbuah ? Kata bapa Ame Aui : “hai kau durian, jadi lah buah mu bergantung dibawah dahan mu itu”, setelah itu mundurlah pohon durian.
lalu pohon cempedak tampil kedepen, katanya : “Ya bapa, di manakah saya akan berbuah, apabila masa saya berbuah ? Kata bapa Ame Aui : “Hai cempedak, dibatangmu itulah engkau berbuah. Lalu pohon cempedak mundur.
Maka tampilah pohon lengkeng, katanya “Hai bapa, di manakah saya akan berbuah, apabila tiba masa saya berbuah ?” Kata Ame Aui : “Hai lengkeng, di Pucukmulah itu kau mengeluarkan buahmu.” Mundurlah pula lengkeng.
Lalu tampilah pohon buah-buahan lain berturut –turut di depan bapa besar itu dan semua dilayani sebagaimana dilakukan kepada durian, Cempedak dan lengkeng itu, lalu masing-masing berbuah pada tempat yang di tunjuk kan bapa besar itu.
Maka Ame Aui berangkat dari sana, tapi dengan tidak di sangka-sangka ada lagi yang masih ketinggalan, yaitu Doh Tekak. Ia pun berseru minta bapa menunggu lalu kata bapa besar itu : “Tiada waktu lagi. Engkau Don Tekak, di tengah batangmu itulah engkau berbuah.”

Anak-Anak Ame Aui dan Buring Une ditinggalkan
Lalu turunlah bapa besar dan ibu besar berdua ke dalam tanah, lenyap dari pandangan mereka itu. Beristirahatlah mereka di dalam tanah pegunungan Apo Kayan itu dan tidak kembali lagi samapai selama-lamanya.
Sesudah itu, lalu tinggallah anak yang tiga bersaudara itu.
Mereka bertiga sangatlah merasa sedih dan berhati pilu, karena mereka telah ditinggalkan bapa dan ibunya, lagi pun telah bercerai dengan saudaranya yang 13 orang itu. Lalu berdiamlah mereka tiga bersaudara ditempat itu sebagai anak ayam yang kehilangan induknya; sebagai anak piatu, tiada beribu dan tiada berbapa.
Adapun mereka tiga saudara itu sangat kasih mengasihi satu sama lain. Si hipui, yang lemah itu, dilayani oeh si dipan. Dan si panyinlah yang berusaha mengambil apa saja yang berguna untuk di makan, lalu diberikannya kepada si dipan, yang mengerjakannya atau menyediakannya untuk si hipui. Karena itu maka dapatlah mereka hidup dan makan di sana.
Setelah beberapa lama mereka berdiam di sana, lalu pindahlah mereka, turun dari pegunungan Apo Kayan pergi ketepi sungai Kayan. Disanalah mereka diam dan mendirikan rumah seturut peraturan yang telah ditentukan oleh bapanya dahulu itu. Setelah lama disana, lalu mereka berladang dan menanam berbagai tanaman, dan sangatlah suburnya. Ternaknya pun berkembang selalu Orang banyak : Maka banyaklah orang berpindah ke sana dan mereka menurut peraturan yang di pakai oleh ketiga bersaudara itu, meskipun mereka mempunyai asal yang berlainan, yang mereka ingat selalu. Kita tulis saja misalnya :
Orang Umaa’ Aging : turun dari Apo Aging
Orang Umaa’ Suling : turun dari Apo Suling
Orang Umaa’ Bayaan : turun dari Apo Bayaan
Orang Pagung : datang dari Apo Agung
Orang Umaa’ Belur : datang dari tanah longsor
Orang Umaa’ Luvaang : datang dari lubang tanah
Orang Umaa’ Lekan : datang dari tanah lereng
Orang Umaa’ Jumaan : datang dari cabang gunung besar
Orang Umaa’ Palaa : datang dari ….
Semua suku tersebut dan yang tidak tersebut adalah orang dayak belaka. Mereka sendiri tahu dan ingat akan asal mereka dari Daya’ Ipui itu.
Kian lama kian bertambah lah penduduk di tepi sungai Kayan itu.
Ada pun orang disana pada masa itu berbahasa sama (satu bahasa), dan adat serta peraturan rumah panjang sama saja. Hanya bentang rumah mereka berlain-lain, tidak sama (terpisah). Jadi tiap-tiap betang rumah mempunyai hipui yang mengatur adat yang sama,yang diambil dari tiga saudara yang pertama itu. Lalu karena itu sangatlah baik dan aman sentosa mereka serta: tunduk di bawah adat yang telah ditentukan dari permulaan, dan itulah yang menjadi pegangan mereka pada masa itu, dan dipakai turun temurun. (Mulai terbongkar tahun 1945 dan habis pada tahun 1974 di Mendalam).

Tidak ada komentar: